Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif di UPTD SDN Gunelap 2
Sebagai bagian dari tugas seorang Calon Guru Penggerak Rekognisi Angkatan 11 saya harus membagikan pemahaman modul 1.4 tentang Budaya Positif kepada guru-guru di sekitar saya. Dalam kegiatan tersebut saya sebagai CGP Rekognisi harus menyampaikan pembelajaran dari penerapan konsep inti dari modul budaya positif serta pemahaman saya mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif.
Kegiatan berbagi pemahaman tersebut terkait Budaya Positif
di sekolah saya lakukan kepada guru-guru di UPTD SD Negeri Gunelap 2 tempat saya bertugas, pada hari
Selasa, 13 Agustus 2024, jam 11.00 WIB sampai jam 12.06 WIB. Selama lebih dari
satu jam saya mengajak guru-guru untuk memahami lebih jauh tentang apa itu Budaya
Positif.
Adapun rangkuman materi tentang Budaya Positif, saya sarikan
dalam rangkaian materi berikut :
Makna Budaya positif di sekolah itu sendiri yaitu nilai dan kebiasaan
di sekolah yang berpihak pada murid agar mereka dapat berkembang menjadi
pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab sesuai dengan profil
pelajar Pancasila.
Disiplin Positif dan
Nilai-nilai Kebajikan Universal
Makna ‘kontrol’ dari paparan Teori
Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan
sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada
teori kontrol. Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya,
serta kaitan Teori Kontrol dengan 3 Motivasi Perilaku Manusia dan menentukan
nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah,
sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.
Teori Motivasi,
Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah,
bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita
perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah
kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk
hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini akan diperkenalkan program disiplin
positif yang dinamakan Restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi
bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali
pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi
juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi
untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa
yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain
(Chelsom Gossen, 1996).
Berikut tabel perbedaan hukuman, konsekuensi dan restitusi
Kesepakatan kelas adalah sebuah kesepakatan yang di buat
oleh siswa dan guru sebagai potret pendekatan tentang nilai-nilai Demokrasi
yang perlu di tanamkan pada diri siswa untuk menjadi pribadi yang bertanggung
jawab. Memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah
sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau
permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. Proses pembentukan dari
peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas dan berpikir kritis, kreatif, reflektif,
dan terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di
sekolah mereka masing-masing.
5 Kebutuhan Dasar Manusia menurut Dr. William Glasser dalam
“Choice Theory”. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu.
Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang
kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat
itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu
kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love
and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power).
Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan
nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan
mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Restitusi - Lima Posisi Kontrol
Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan
bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas
mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan
memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan
berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5
posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam
melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat
Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.
Restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin
positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah, menerapkan
restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka
dan menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif
di lingkungannya.
Tahapan Restitusi Segitiga :
- Menstabilkan Identitas
Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah
identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang
yang sukses.
- Validasi tindakan yang
salah
Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu
memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang
mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif
untuk memenuhi kebutuhan tersebut
- Menanyakan Keyakinan
Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka
menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas
tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak
tetap fokus pada gambaran tersebut.
Video Kegiatan :

Komentar
Posting Komentar